World Risk Report
mencatat sepanjang 2002 hingga 2011, telah terjadi 4.130 bencana di
seluruh dunia yang mengakibatkan lebih dari 1 juta meninggal dunia dan
kerugian material mencapai US$1,195 triliun. Laporan Risiko Dunia ini
juga membuat World Risk Index (Indeks Risiko Dunia) yang
memeringkatkan 173 negara berdasarkan risiko menjadi korban bencana
sebagai akibat dari bencana alam.
10 negara dengan peringkat
tertinggi atas resiko bencana akibat kerusakan alam adalah: Vanuatu
(63,66%), Tonga (55,27%), Filipina (52,46%), Jepang (45,91%), Costa Rica
(42,61%), Brunei Darussalam (41,10%), Mauritius (37,35%), Guatemala
(36,30%), El Salvador (32.60%), dan Bangladesh (31.70%). Sedangkan
negara dengan risiko bencana terendah adalah Malta dan Qatar. Indonesia
sendiri, berdasarkan Indeks Risiko Dunia ini berada di peringkat ke-33
dengan nilai 10,74%. Meskipun begitu Indonesia masih termasuk negara
berisiko tinggi terhadap berbagai Bencana Alam seperti banjir, gempa
bumi, erosi, kenaikan air laut, abrasi pantai dan badai.
Dalam laporan ini, Kerusakan
Lingkungan mempunyai dampak nyata terhadap peningkatan risiko bencana.
Sebaliknya, alam mempunyai kemampuan untuk mengurangi risiko bencana
tersebut. Salah satunya adalah terumbu karang dan mangrove menurut Dr
Michael Beck, Ilmuwan The Nature Conservancy, sekitar 200 juta orang di
dunia yang sangat berisiko jika terumbu karang rusak. 200 juta orang
tersebut paling banyak tersebar di 7 negara yaitu Indonesia dan India
(masing-masing 35 juta orang), Filipina (20 juta), China (15 juta),
Brazil, Vietnam, dan Amerika Serikat (seluruhnya 7 juta).
Dari rilis ini bisa diketahui
bahwa kelestarian terumbu karang di pesisir Indonesia menjadi benteng
bagi lebih dari 35 juta penduduk Indonesia yang mendiami daerah pantai.
Rusaknya terumbu karang akan meningkatkan risiko bencana terhadap
mereka. Padahal luas terumbu karang di Indonesia tidak kurang dari 85
ribu km2. Sayangnya dari seluruh luas terumbu karang yang
dimiliki oleh Indonesia, menurut berbagai studi, hanya berkisar 30% saja
yang dalam kondisi bagus.
Laporan Risiko Bencana ini
haruslah segera menjadi peringatan bagi kita semua untuk segera
menghentikan kerusakan lingkungan, termasuk kerusakan terumbu karang,
yang terus terjadi di Indonesia. Alam, dengan caranya, telah melindungi
kita dari berbagai bencana, sudah seharusnya kita menjaga alam dan
menghentikan kerusakan alam.
